Entri Populer

Minggu, 13 Februari 2011

Pengertian, Sejarah, Tujuan Psikologi

Oleh: Rima Safuro 
1. Menurut Crow & Crow
             Psikologi ialah tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik berupa manusia lain (human relationship) maupun bukan manusia: hewan, iklim, kebudayaan, dan sebagainya.
2. Menurut Sartain
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku organisme yang hidup, terutama tingkah laku manusia.
3. Menurut Bruno (1987)
            Psikologi dibagi dalam tiga bagian, yaitu: Pertama, psikologi adalah studi (penyelidikan) mengenai “ruh”. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “kehidupan mental”. Ketiga, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “tingkah laku” organisme.
4. Ensiklopedia Pendidikan, Poerbakawatja dan Harahap (1981)
            Psikologi adalah  sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan – kegiatan jiwa.
5. Menurut Richard Mayer (1981) :
             Psikologi merupakan analisi mengenai proses mental dan struktur daya ingat untuk memahami perilaku manusia
6. Menurut Dr. Singgih Dirgagunasa
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
7. Menurut Plato dan Aritoteles
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.
8. Menurut Jhon Broadus Watson
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku lahiriah dengan menggunakan metode observasi yang objektif terhadap rangsangan.
9. Menurut Wilhem Wundt
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul pada diri manusia, seperti perasaan panca indra, pikiran, feeling, dan kehendak.
10. Menurut Woodworth dan Marquis
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari aktivitas individu sejak masih dalam kandungan sampai meninggal dunia dalam hubungannya dengan alam sekitar.
11. Menurut Moskowitz dan Orgel
Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan empirik yang berdasarkan atas observasi dan penelitian eksperimental, pokok persoalannya adalah tentang tingkah laku manusia.
12. Menurut Rene Descartes
Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai gejala pemikiran atau gejala kesadaran manusia, terlepas dari badannya.
13. Menurut Jhon Locke
Psikologi adalah semua pengetahuan, tanggapan, dan perasaan jiwa manusia diperoleh karena pengalaman melalui alat-alat indranya.
14. Menurut Muhammad Baitul Alim
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental. Psikologi merupakan cabang ilmu yang masih muda atau remaja. Sebab, pada awalnya psikologi merupakan bagian dari ilmu filsafat tentang jiwa manusia
15.  Menurut Plato
Psikologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat, hakikat, dan hidup jiwa manusia (psyche = jiwa ; logos = ilmu pengetahuan). Jiwa secara harfiah berasal dari perkataan sansekerta JIV, yang berarti lembaga hidup (levensbeginsel), atau daya hidup (levenscracht).
16. Menurut Paul Mussen dan Mark R. Rosenzwieg
Psikologi diartikan, sebagai ilmu yang mempelajari mind ( pikiran) dan berkembang menjadi behavior, sehingga psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
17. Menurut Ernest Hilgert dalam bukunya Introduction to Psychology
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan lainnya.
18. Menurut George A. Miller dalam bukunya Psychology and Communication
Psikologi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku.
19. Menurut Chaplin dalam Dictionary of Psychology
Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan alam sekitar dan peristiwa – peristiwa kemasyarakatan yang mengubah lingkungan.
20. Menurut Clifford T. Morgan
 Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan.
21. Menurut Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld
Psikologi adalah studi tentang hakekat manusia.
22. Menurut Garden Murphy
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
Sumber: Sarlito Wirawan S, Pengantar Umum Psikologi, hlm. 4.
Psikologi adalah ilmu yang tergolong muda (sekitar akhir 1800an.) Tetapi, manusia di sepanjang sejarah telah memperhatikan masalah psikologi.
Psikologi sebagai suatu ilmu, tidak lepas dan perkembangan psikologi itu sendiri, serta ilmu-ilmu yang lain. Dari waktu ke waktu psikologi sebagai suatu ilmu mengalami perkembangan, sesuai dengan perkembangan keadaan. Oleh karena itu psikologi sebagai suatu ilmu mempunyai sejarah tersendiri, hingga merupakan psikologi dalam bentuk yang sekarang ini. Dari pemikiran para ahli yang mungkin saling mempunyai pandangan yang berbeda akan memacu perkembangan psikologi.
Para ahli psikologi dahulu adalah juga ahli filsafat. Dapat dimengerti kalau pemikiran tentang kejiwaan dipengaruhi oleh pemikiran filsafat. Bahkan pada zaman Plato dan Aristoteles, psikologi masih menyatu dengan filsafat sebagai induk segala ilmu. Pengaruh filsafat terhadap psikologi berlangsung sejak Zaman Baru (1800 M). Dua orang filsuf yang  juga menyelidiki kejiwaan manusia adalah Plato dan Aristoteles.
Plato (427-347 SM), murid dan pengikut setia Socrates dan dianggap sebagai penganut dualisme yang sebenar-benarnya, mengatakan bahwa dunia kejiwaan berisi ide-ide yang berdiri sendiri terlepas dari pengalaman hidup sehari-hari. Pada orang dewasa dan intelektual, mereka dapat membedakan mana jiwa dan mana badan. Akan tetapi, pada anak-anak jiwa masih bercampur dengan badan, belum bisa memisahkan Ide dari benda-benda kongkrit. Jiwa yang berisi Ide-Ide ini diberi nama “Psyche”. Selain itu, Plato juga meyakini bahwa tiap-tiap orang telah ditetapkan status dan kedudukannya di masyarakat sejak lahir apakah ia seorang filsuf, prajurit, atau pekerja. Ia percaya bahwa tiap orang dilahirkan dengan kekhususan tersendiri, tidak sama antara satu sama lainnya. Dengan demikian, selain dianggap sebagai penganut paham Determinisme atau Nativisme, ia pun dianggap sebagai tokoh pemula dari paham “individual differences.” Dalam perkembangan psikologi selanjutnya, paham individual differences ini membawa para sarjana ke arah penemuan alat-alat pemeriksaan psikologi (psikotes).

Aristoteles (385-322 SM), murid Plato, berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang
berbentuk kejiwaan (form) harus menempati sesuatu wujud tertentu (matter). Wujud ini pada hakikatnya merupakan pernyataan atau ekspresi dari jiwa. Tuhanlah satu-satunya yang tanpa wujud, hanya form saja. Aristoteles sering disebut sebagai Bapak Psikologi Empiris karena menurutnya segala sesuatu harus bertitik tolak dari realita, yaitu matter. Matter-lah sumber utama pengatahuan. Pandangan dan teori-teori Aristoteles tentang Psikologi dapat dilihat dalam bukunya yang terkenal De Anima, yang sesungguhnya merupakan buku tentang ilmu hewan komparatif dan biologi. Dalam buku itu ia mengatakan bahwa setiap benda di dunia ini mempunyai dorongan untuk tumbuh dan menjadi sesuatu sesuai dengan tujuan yang sudah terkandung dalam benda itu sendiri. Aristoteles selanjutnya membedakan antara hule dan morphe. Hule (Noes Photeticos) adalah “yang terbentuk”. sedangkan Morphe (Noes Poeticos) adalah “yang membentuk”. Benda dalam alam tidak tumbuh dan berkembang begitu saja, tetapi menjadi atau diperkembangkan menjadi sesuatu. Sebelum benda itu terwujud benda itu berupa kemungkinan. Selanjutnya Aristoteles membedakan tiga macam form, yaitu: Plant, yang mengontrol fungsi-fungsi vegetatif; Animal, dapat dilihat dalam fungsi-fungsi seperti: mengingat, mengharap, dan persepsi; Rasional, yang memungkinkan manusia malakukan penalaran (reasoning) dan membentuk konsp-konsep. Khusus pada manusia, dorongan untuk tumbuh ini berbentuk dorongan untuk merealisasikan diri (self realization) yang disebut entelechi. Menurut Aristoteles fungsi jiwa dibagi dua, yaitu kemampuan untuk mengenal dan kemampuan berkehendak. Pandangan ini dikenal sebagai “dichotomi”.
Perkembangan psikologi berangsur-angsur melepaskan diri dari corak pemikiran filsafat dan mengalami perkembangan pesat. Berawal (terutama sekali) dalam hal metode yang digunakan dalam penyelidikan-penyelidikannya. Pesatnya perkembangan itu ditandai dengan menonjolnya pengaruh ilmu pengetahuan alam terhadap psikologi sebelum abad ke-20.Pengaruh tersebut terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung, baik metode penyelidikannya, maupun materi pandangannya. Hal ini akan lebih tampak jelas dalam bahasan sebagian psikologi yang muncul pada zaman itu.

Pada akhir abad ke-19 terjadilah babak baru dalam sejarah Psikologi. Pada tahun 1879, Wilhem Wundt (Jerman, 1832-1920) merupakan orang yang banyak disebut-sebut dalam literatur sebagai pelopor usaha melepaskan psikologi dan filsafat dan ilmu pengetahuan alam.
Usaha nyata W. Wundt ditampakannya dengan mendirikan “Laboraturium Psikologi” yang pertama pada tahun 1875. Laboraturium tersebut disahkan oleh Universitas Leipzig pada tahun 1886. Sejak disahkannya, maka psikologi dengan sendirinya terpisah dari filsafat dan ilmu pengetahuan alam, menjadi pengetahuan yang berdiri sendiri. Di dalam laboraturiumnya itu, W. Wundt mengadakan eksperimen dalam usaha menyelidiki jiwa lewat gejala-gejala jiwa. Karena metode eksperimen yang digunakannya, itulah sebabnya W.  Wundt disebut juga sebagai tokoh Psikologi Eksperimental.
Sebagai tokoh Psikologi Eksperimental, Wundt memperkenalkan metode Introspeksi yang digunakan dalam eksperimen-eksperimennya. Ia dikenal sebagai tokoh penganut Strukturalisme karena ia mengemukakan suatu teori yang menguraikan struktur dari jiwa. Wundt berpendapat, gejala jiwa tidak dapat diterangkan berdasarkan semata-mata hanya pengamatan dan perenungan terhadap proses alam seperti diterangkan dalam Psikologi Fisiologi. Untuk mengerti jiwa, menurut Wundt, haruslah dengan mempelajari jiwa itu sendiri melaalui eksperimen-eksperimen. Dalam hal ini, karena psikologi harus berdiri sendiri, maka fisiologi berfungsi hanya sebagai ilmu bantu bagi psikologi.
Wundt percaya bahwa jiwa terdiri dari elemen-elemen (Elementisme) dan ada mekanisme terpenting dalam jiwa yang menghubungkan elemen-elemen kejiwaan satu sama lainnya sehingga membentuk suatu struktur kejiwaan yang utuh yang disebut asosiasi. Oleh karena itu, Wundt juga dianggap sebagai tokoh Asosianisme.

Sejak psikologi berdiri sebagai ilmu pengetahuan (akhir abad ke-19), muncullah berbagai macam aliran psikologi. Dengan metodenya sendiri, baik dalam penyelidikan maupun dalam pembuktian hasil penyelidikannya, melahirkan pandangan psikologi yang memiliki corak khusus. Lebih-lebih sejak awal abad ke-20 sampai sekarang, proses pembelahan psikologi dalam aliran-aliran yang semakin 24mengkhusus-kan diri berkembang dengan pesat.
Aliran-aliran psikologi yang muncul sejak saat itu dan berkembang saat itu dan berkembang hingga kini dengan pengikutnya masing-masing disebutkan antara lain:

Psikologi Gestal menekankan analisisnya pada totalitas hidup kejiwaan manusia. Menurut  pandangan  psikologi aliran ini, manusia merupakan suatu keseluruhan atau kebulatan (gestal) dalam proses bekerja kejiwaannya. Pelopor yang terkenal adalah Ch. V. Ehrenfels, yang mengadakan penyelidikan dalam hal pengamatan.
Psikologi yang menitikberatkan pandangannya pada tingkah lakulahiriah manusia dan hewan. Titik tolak pandangan mereka adalah kepastian jalan (proses) kerja ilmu pasti dan mesin, yang walaupun kaku, tetapi pasti dan benar. Atas kebenaran pemikiran semacam itu, mereka mengira bahwa seluruh persoalan dunia, termasuk jiwa manusia dapat dimengerti dengan analisis semacam itu.
Tokoh-tokoh aliran ini adalah Edward Lee Thorndike dan J.B. Watson. E. L. Thorndike adalah seorang tokoh behavioris yang mencetuskan teori “Trial and Error” dari percobaannya terhadap seekor kucing.
Tokoh lain, J. B. Watson, berusaha menghilangkan arti kesadaran dalam jiwa manusia. Menurut Watson, kesadaran merupakan istilah dari filsafat. Watson terkenal dengan teorinya tentang hubungan antara perangsang dengan sambutan (stimulus respons), sehingga teorinya di sebut teori “S-R-bon” (Bon ikatan antara stimulus dengan respons).
Menurut pandangan aliran ini, manusia dan hewan memiliki kemampuan refleks yang dapat dipengaruhi sedemikian rupa sehingga dapat digerakkan perbuatan-perbuatannya. Aliran ini pada dasarnya sama dengan aliran Behavior yang berkembang di Amerika Serikat. Aliran refleksologi ini berkembang di Rusia dengan tokohnya antara lain Ivan Pavlov. Ia telah menyelidiki refleksi seekkor anjing terhadap perangsang, hasilnya diketahui bahwa perangsang bersyarat (buatan) dapat menggantikan perangsang yang sesungguhnya. Berkat latihan-latihan, tingkah laku hewan dan manusia dapat dipengaruhi sedemikian rupa sehingga semakin lama semakin kompleks dan terlatih. Dengan demikian, melalui latihan maka binatang dapat menari, melihat warna, dan membedakannya dan sebagainya.
Penyelidikannya terhadap seekor anjing itu berhasil sangat baik sehingga Ivan Pavlov mendapatkan hadiah nobel dalam psikologi refleks pada tahun 1905.
Demikian pada pokoknya, psikologi pada abad ke-20 berkembang demikian pesat dengan tujuan, di samping lebih memperdalam ilmu pengetahuan itu sendiri, juga diharapkan bermanfaat lebih intensif bagi kehidupan manusia.
Sistematika proses perkembangan psikologi yang tergolong dalam empat bagian dalam bab ini, sesungguhnya hanya dapat dikembalikan pada dua bagian pokok. Psikologi yang dipengaruhi oleh filsafat dan psikologi yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam, disebut juga psikologi lama. Sedangkan psikologi yang berdiri sendiri dan psikologi pada abad ke-20. Disebut juga psikologi modern.
                2.  H. Abu Ahmadi, Psikologi Umum, hlm 31.
Pada garis besarnya orang mempelajari ilmu jiwa adalah untuk menjadikan manusia supaya hidupnya baik,bahagia dan sempurna. Test Binet kemudian disempurnakan lebih lanjut oleh ahli-ahli lain antara lain oleh Stern,Terman Merril dan sebagainya.
Salah satu revisi yang terkenal ialah dari Terman untuk dipakai di Amerika yang terkenal dengan “standford Revision” dan sering disebut test inteligensi Stanford - Binet. Dan masih banyak test - test yang lain, misalnya test Rorschach, test Kreeplin, test T.A.T.
Test dapat dibedakan atas bermacam - macam jenis yaitu:
1. Menurut banyaknya orang yang di-test, test dapat dibedakan atas:
2. Berdasarkan atas peristiwa - peristiwa kejiwaan yang diselidiki, maka test dapat dibedakan atas :
Dari uraian diatas dapat kita kesimpulan, bahwa manfaat dan tujuan mempelajari ilmu jiwa adalah: Pada garis besarnya orang mempelajari ilmu jiwa adalah untuk menjadikan manusia supaya hidupnya baik, bahagia, dan sempurna. Dengan ilmu jiwa manusia tidak ragu-ragu lagi mengubah cara hidup, tingkah laku, dan pergaulan dalam masyarakat.
Jadi tegasnya tujuan dan gunanya mempelajari ilmu jiwa ialah:
Sumber: http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/tujuan-mempelajari-psikologi.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar