Entri Populer

Jumat, 04 Februari 2011

HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN ILMU-ILMU LAINNYA

Dengan definisi atau pengertian  psikologi seperti diuraikan pada bagian A di atas, dapatlah kita pahami bahwa psikologi sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri, dalam melaksanakan tugasnya (dalam aplikasinya) tidak terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, bahkan sebaliknya psikologi memerlukan bantuan ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, baik ilmu pengetahuan alam maupun pengetahuan sosial, terutama yang secara langsung menyangkut kehidupan manusia. 
Mengingat objek studi psikologi adalah kegiatan / tingkah laku  manusia, maka sudah barang tentu ilmu-ilmu sosial adalah  yang pertama-tama mempunyai hubungan yang sangat erat dengan psikologi, hukum-hukum dan ketentuan dalam ilmu-ilmu sosial sanagat dipengaruhi oleh perbuatan manusia atau masyarakat dan lingkungannya. Untuk lebih jelasnya marilah kita ikuti satu demi satu hubungan psikologi dengan ilmu-ilmu lainnya.

Sosiologi memusatkan  perhatiannya kepada unsur-unssur atau gejala khusus dalam masyarakat manusia, dengan menganalisa  kelompok-kelompok masyarakat manusia (social groupings), hubungan antara kelompok-kelompok atau individu-individu (social relation) atau proses-proses yang terdapat  dalam kehidupan suatu masyarakat (social processes). (Koentjaraningrat,  1980 : 41). Psikologi juga mempelajari tingkah laku atau kegiatan manusia selaku anggota kelompok atau anggota masyarakat, sebagai manifestasi dari aktivitas rohaniahnya, terutama dalam hubungannya dengan individu lain, baik di dalam maupun di luar kelompoknya, juga interaksi antara satu sama lain dalam hidup bermasyrakat. Perbedaan yang jelas antara psikologi dengan sosiologi adalah pada objek formalnya.
Psikologi menitikberatkan pada tingkah laku / kegiatan individu selaku anggota masyarakat dalam hubungannya dengan yang lain, sedang sosiologi menitikberatkan pada hidup kelompok dengan ciri-cirinya yang berupa organisasi yang terbentuk di dalamnya. Jadi bantuan sosiologi terhadap psikologi adalah dalam usaha pemahaman mengenai faktor lingkungan sosial.

Bantuan antropologi terhadap psikologi, khususnya terhadap psikiatri, sangatlah besar, sehingga dalam perkembangannya yang terakhir, lahir suatu cabang baru dari antropologi, yaitu “anthropology in mental health”. Di antara penyakit-pnyakit jiwa  yang diobati oleh para ahli penyakit jiwa (psychiater), ternyata ada yang tidak disebabkan oleh  kelainan-kelainan biologis atau kerusakan dalam organisme, melainkan karena jiwa dan emosi-emosi yang tertekan atau frustrasi.
Keadaan tertekan jiwa ini disebabkan dan dilatar-belakangi oleh aspek-aspek sosial budaya. Aspek-aspek budaya yang melatar-belakangi atau menyebabkan penyakit jiwa ini merupakan bidang penelitian dan pembahasan antropologi, khususnya “anthropology in mental health” (Nader, 1972 : 9).  

Kedua ilmu ini hampir tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena mempunyai hubungan timbal balik. Ilmu Pendidikan sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusia sejak ia lahir sampai tua/mati. Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik, bilamana tidak berdasarkan kepada paikologi perkembangan. Demikian juga watak dan kepribadian seseorang ditunjukkan oleh psikologi. Oleh karena sangat eratnya tugas antara psikologi dan ilmu pendidikan, maka kemudian timbul “educational psychology”  (ilmu jiwa pendidikan), bahkan dalam perkembangannya lebih lanjut muncullah ilmu yang disebut metodologi pendidikan (ilmu tentang cara mendidik).

Biologi mempelajari tentang  kehidupan jasmaniah manusia atau hewan, dilihat dari objek materialnya, terdapat bidang yang sama dengan psikologi, hanya  obyek formalnya yang berbeda. Obyek formal biologi adalah kehidupan jasmaniah (fisik), sedang obyek formal psikologi tentang kegiatan atau tingkah laku manusia. Sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut : Pengaruh jasmaniah dan rohaniah terhadap perkembangan janin dalam kandungan adalah dapat dipelajari baik oleh biologi maupun psikologi. Keruwetan pikiran dan ketidak-tenteraman psikologis yang diderita si ibu akan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan janin (embrio) dalam kandungannya. Kekurangan vitamin atau penyakit jasmaniah yang diderita si ibu yang sedang mengandung akan memberikan efek/dampak, baik biologis maupun psikologis anak dalam kandungan, seperti anggota badan yang tidak normal, lemah ingatan, dan lemah kecerdasan.

Fisiologi mempelajari organ-organ tubuh manusia sebagai organisme. Fisiologi mempelajari  bagaimana proses bekerjanya organ-organ tubuh seperti : otak, mata, hati, jantung, paru-paru, dan sebagainya, serta interaksi antara organ satu dengan organ lainnya. Juga fisiologi mempelajari bagaimana fungsi tubuh/organ-organ itu dapat bekerja akibat dari hidup kejiwaan. Misalnya tentang manusia dapat melihat benda-benda, menurut fisiologi, manusia itu dapat melihat benda (objek) disebabkan adanya cahaya yang masuk ke dalam mata dan diterima oleh bintik-bintik kuning yang ada di dalam mata, lalu cahaya  tersebut diteruskan ke dalam otak sehingga timbul kesadaran penglihatan (dapat melihat benda/objek). Sedang menurut psikologi, manusia dapat melihat disebabkan oleh adanya motif-motif yang mendorong keinginannya untuk melihat benda/objek. Di samping dorongan motif,  juga karena adanya rangsangan  (stimulus) dari luar dirinya, sehingga melihat itu merupakan respon terhadap stimulus yang diterimanya.

6.    Hubungan Psikologi dengan Ilmu Alam
Menurut sejarah perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, ilmu alam merupakan disiplin ilmu yang pertama-tama memisahkan diri dari filsafat. Ilmu alam lahir berdasarkan data dan fakta hasil penelitian (eksperimen), terutama di laboratorium. Metode eksperimen ini dianggap lebih objektif dibanding dengan metode spekulatif yang digunakan dalam filsafat. Pada awal abad ke-19 Masehi, psikologi dalam penelitiannya banyak  terpengaruh oleh ilmu alam. Psikologi disusun berdasarkan hasil eksperimen sehingga lahirlah antara lain: psiko psikis dan behaviorisme yang tokoh-tokohnya natara laiin : Gustav Fechner, Johannes Muller, Watson, dan lain-lain (Watson, 1968). Akan tetapi pada akhirnya psikologi menyadari bahwa obyek penyelidikannya adalah manusia dan tingkah lakunya yang hidup  dan selalu berkembang, sedang ilmu alam obyeknya adalah benda mati. Oleh karena itu metode ilmu alam yang dicoba diterapkan dalam psikologi dianggap kurang tepat, oleh karenanya psikologi mencari metode lain yang sesuai dengan sifat keilmuannya sendiri, yaitu antara lain metode “fenomenologi”, yaitu suatu metode penelitian yang menitikberatkan kepada gejala hidup kejiwaan.
Dengan uraian di atas, jelaslah bahwa psikologi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ilmu-ilmu yang lainnya, khususnya dengan ilmu-ilmu sosial atau ilmu-ilmu yang obyek penelitiannya mahluk hidup, khususnya manusia. Dan dalam perkembangannya sudah barang tentu psikologi, akan semakin mempunyai hubungan  yang luas dengan ilmu-ilmu selain ilmu-ilmu tersebut di atas.  

2 komentar: