Entri Populer

Kamis, 10 Februari 2011

SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI

Oleh: Eka Chandra Oktaviani
Banyak para cendikiawan yang mengungkapkan pengertian dari kata “Psikologi” , kata yang berasal dari Yunani Kuno berasal dari kata-kata  “psyche” dan  “logos”. Secara etimologis atau pengertian lafdhiyah,  “psyche” berarti jiwa, roh, sukma, atma, atau napas hidup, dan  “logos” (ology) berarti ilmu atau studi. Secara etimologis, psikologi berarti ilmu jiwa atau suatu studi tentang jiwa, tentang roh, tentang atma,  sukma, atau tentang napas hidup.
Dalam perjalanannya menjadi sebuah ilmu pengetahuan diperlukan beberapa tahapan sehingga dapat menjadi ilmu yang mandiri. Berikut adalah bagan pejalanan psikologi :



             Dalam bagan tesebut digambarkan secara jelas awal mula psikologi. Sepanjang sejarah telah banyak yang memperhatikan masalah psikologi. Seperti filosof yunani terutama Plato dan Aristoteles. Setelah itu St Austine ( 354 – 430 ) dianggap tokoh besar dalam psikologi modern karena perhatiannya pada intropeksi dan keingintahuannya tentang denomena psikologi. Descrates ( 1596 – 1650 ) mengajukan teori bahwa hewan adalah mesin yang dapat dipelajari sebagai mana mesin lainnya. Ia juga memperkenalkan konsep kerja refleks. Banyak ahli filsafat terkenal lain dalam abad tujuh belas dan delapan belas – Leibnits, Hobbes, Locke, Kant dan Hume – memberikan sumbangan dalam bidang psikologi. Pada waktu itu psikologi masih berbentuk wacana belum menjadi ilmu pengetahuan.
            Berdasarkan pandangan tersebut, bagian Sejarah Psikologi ini akan dibagi ke dalam beberapa periode dengan berbagai tokohnya. (Ditulis oleh: DR. phil. Hana Panggabean )

1.      Psikologi sebagai bagian dari filsafat

Masa Yunani Kuno (Cosmological Period)
         Adalah masa transisi dari pola pikir animisime ke awal dari natural science.Penentu aktivitas manusia adalah alam atau lingkungan. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkan melalui prinsip-prinsip alam atau prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam.
         Ada 5 orientasi : naturalistic, biological, mathematical, eclectic, dan humanistic.
  1. Naturalistic
    adanya elemen dasar bagi penentu kehidupan. Contoh : Thales (air), Anaximenes (udara).
    Ide tentang permanence vs change dari zat yang dianalogikan kepada aktivitias manusia, menimbulkan ide tentang jiwa
Pola pikir deduktif : generalisasi gejala alam pada perilaku manusia
  1. Biologic
    Mengangkat posisi manusia di atas gejala alam yang lain, memisahkan proses-proses pada manusia dari proses-proses yang ada pada mahluk lain di alam.
    Proses-proses fisiologis primer untuk menjelaskan perilaku manusia
    Tokoh : Hippocrates, Alcmeon, Empedocles.
  2. Mathematical
Pendekatan yang melangkah lebih jauh dari dasar dunia fisik, mengarahkan pada hal-hal yang logis tapi abstrak, merupakan bekal bagi kekuatan reason.
  1. Eclectic
    Menentang ide adanya suatu prinsip dasar dan ‘kebenaran umum’. Idenya sangat mendasar berbeda dari orientasi lainnya.
Menekankan pada informasi sensoris, sangat operasional dan praktis
Sikap ilmuwan harus skeptik
Tokoh : The sophists- universal lecturers
  1. Humanistic
    Fokus : rationality & intentionality. Ratio adalah penentu kehidupan manusia beserta segala konsekuensinya. Tokoh utama : Socrates.
Tokoh penerus Socrates : Plato & Aristoteles
Abad Petengahan
1. AKHIR MASA HELLENISTIC
            Pendekatan natural science dari Aristoteles disebarkan oleh muridnya, Alexander the Great melalui ekspansi militer sampai ke daerah Timur. Bersamaan dengan itu mulai juga masuk pandangan belahan dunia Timur ke Barat, terutama Persia, India, dan Mesir. Dengan runtuhnya kekuasaan Alexander the Great, pengaruh timur ini semakin kuat, ditandai dengan menguatnya pandangan spiritualitas menggantikan naturalisme.
 2. MASA ROMAWI
1. Konteks sosial :
  • Pemerintahan kekaisaran romawi yang mendunia dengan tertib administrasi kependudukan yang kuat serta jaminan akan ketentraman sosial.
  • Pemikiran tentang manusia dan alam menjadi lebih pragmatis, spesifik dan spesialis. Bangsa Romawi lebih tertarik pada ilmu pengetahuan yang teknikal dan aplikatif, seluruhnya diarahkan untuk memperkuat dominasi kekaisaran Romawi.
  • Ide-ide dan pemikiran tentang manusia berkembang subur, bahkan juga ide-ide ketuhanan
2. Pengaruh bagi perkembangan pemikiran tentang manusia:
  • Filsafat yang berkembang memiliki konteks yang lebih terbatas dan spesifik, serta tampak dalam bentuk yang nyata, misalnya ritual religi masyarakat Romawi.
  • Fokus yang dibicarakan :
    • dikotomi aktif-pasif, apakah jiwa (yang menggambarkan manusia) adalah unsur yang aktif dan mandiri terhadap lingkungan ataukah unsur yang pasif dan hanya bisa memberi reaksi.
    • dikotomi passion - reason
    • manusia dipandang sebagai makhluk yang kehidupannya didorong oleh usaha untuk mencari cara ‘menguasai’ keinginan fisik melalui penolakan dunia materiil dan mencari kebenaran dalam alam dan Tuhan (Neoplatonism)
  • Pengaruh pada pemikiran tentang. nilai moral.
  • Pemikiran pada masa Romawi memberi jalan bagi berkembangnya kekristenan.
 2. PENGARUH KEKRISTENAN
1. Konteks sosial :
  • masa penyebaran agama Kristen dengan tokoh Yesus sebagai perwujudan "manusia sempurna" beserta perilakunya yang harus jadi teladan.
  • paham Tritunggal yang mengandaikan x=3x
  • gereja dan para ulamanya berperan penting dalam masyarakat
  • peran gereja menjadi dominan dalam perkembangan intelektualitas di masyarakat, banyak cendekiawan berlatar belakang ulama.
  • secara gradual, gereja menjadi penentu nilai di masyarakat dan berhak melakukan sensor atas tulisan atau ide yang muncul. Gereja juga adalah penyelenggara pendidikan moral. Peran gereja dirasakan kurang memuaskan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, maka muncul universitas-universitas di Eropa yang menawarkan kebebasan berpikir secara lebih luas. Terjadi pertentangan antara gereja dan masyarakat.
2. Pengaruh pada pandangan mengenai manusia :
  • Manusia bukan hanya physical being, tetapi juga spiritual entity. Aspek spiritual tidak diatur oleh hukum alam. Jiwa manusia (soul) ada pada dunia yang tidak nyata (intangible), tidak dapat dibuktikan dengan mata, dan eksistensinya hanya dapat dibuktikan lewat percaya (iman).
  • Menempatkan ide Plato dalam konteks kekristenan
  • Usaha untuk menjelaskan hubungan antara body and soul sebagai suatu dualisme, bukan sst yang harus dipertentangkan, body dan soul masing-masing memiliki fungsi tersendiri.
 BEBERAPA TOKOH YANG IKUT ANDIL DALAM PEUBAHAN INI
St. Agustinus
  • Filosof pertama pada masa Kekristenan.
  • Tuhan adalah kebenaran yang menciptakan manusia, bumi dan surga. Jiwa manusia adalah gambaran dari Tuhan.
  • Pentingnya eksplorasi spiritualitas sebagai usaha manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Faktor materiil tidak penting, rationalitas juga tidak terlalu dapat dipercaya. Maka pandangannya betul-betul merupakan kebalikan dari pandangan natural science yang empiris dan objektif. Hanya melalui transendensi manusia dapat sedekat mungkin dengan Tuhan dan berarti juga sedekat mungkin dengan kebenaran.
  • Sumbangan bagi psikologi : metode introspective. Teknik utama manusia untuk melakukan transendensi.
Dalam psikologi modern teknik ini digunakan oleh beberapa aliran besar seperti strukturalisme (teknik utama untuk menggali jiwa manusia), gestalt, dan psikoanalisa.
Thomas Aquinas
  • Mentransformasikan pandangan Aristoteles ke dalam konsep-konsep kekristenan. Apa yang dikenal sebagai reason oleh Aristoteles diterjemahkan sebagai soul oleh Aquinas. Maka soul adalah sesuatu yang vital bagi manusia, tujuan utamanya adalah memahami dunia, hal yang tidak dapat dilakukan oleh fisik manusia semata.
  • Namun demikian, banyak act dari soul yang membutuhkan tubuh fisik manusia sebagai kekuatan yang dapat mewujudkannya.
  • Sumbangan bagi science/psikologi modern :
    • Pengubahan mutlak dari Aristoteles’ natural science
    • Pengembangan dualisme
Sepanjang masa ini, perdebatan mengenai manusia bergeser dari topik kehidupan yang luas, hubungan antara manusia dengan lingkungannya /alam, ke arah pemahaman tentang kehidupan secara lebih spesifik, yaitu hubungan antara aspek-aspek di dalam diri manusia itu sendiri. Menunjukkan semakin mendalamnya perhatian dan concern awal mengenai manusia itu sendiri. Meskipun demikian, pengaruh kuat gereja menyebabkan pemikiran tentang manusia tidak bebas, dan otoritas ketuhanan tetap dijunjung sebagai otoritas tertinggi.











Masa Rennaisance
         Masa ini merupakan merupakan reaksi terhadap masa sebelumnya, dimana pengetahuan bersifat doktrinal di bawah pengaruh gereja dan lebih didasarkan pada iman. Reaksi ini sedemikian kuat sehingga dapat dikatakan peran nalar menggantikan peran iman, ilmu pengetahuan menggantikan tempat agama dan iman di masyarakat. Semangat pencerahan semakin tampak nyata dalam perkembangan science dan filsafat melalui menguatnya peran nalar (reason) dalam segala bidang, dikenal sebagai the age of reason. Akal budi manusia dinilai sangat tinggi dan digunakan untuk membentuk pengetahuan.
        Masa Rennaissance ditandai dengan bergesernya fokus pemahaman dari God-centeredness menjadi human-centerednes, dikenal dengan istilah sekularisasi atau humanity. Tulisan-tulisan filsuf terkenal seperti Plato, Aristoteles dan lain-lain dikaji untuk melihat bagaimana pola pikir penulisnya dan konteks histories waktu tulisan itu dibuat. Maka yang dicari adalah human truth dan bukan God truth. Kesimpulan akhirnya adalah penerimaan bahwa kebenaran memiliki lebih dari satu perspektif.
        Masa Renaissance diikuti oleh masa reformasi dari Luther dalam agama Kristen, yang memiliki dua arti penting. Pertama, reformasi Luther semakin melemahkan pengaruh gereja dan mendukung kemandirian manusia dalam mengelola imannya kepada Tuhan. Kedua dengan peperangan yang ditimbulkan reformasi, terungkap pula sisi negative dari kemanusiaan seperti penindasan, penderitaan, dan rasa tidak berdaya manusia.
Masa Revolusi Ilmiah
         Ada beberapa pandangan penting tentang manusia pada masa ini :
Pola pikir yang lebih mekanistik dalam memandang alam dan manusia. Itu berarti alam memiliki sistem, dapat diramalkan, dan tidak tunduk pada hukum-hukum spritual belaka. Manusia juga memiliki reason, kemampuan untuk berpikir logis dan dengan demikian tidak tunduk total kepada hukum spiritual dan kesetiaan semata.
Penganjur :
    • Teori Newton tentang gravitasi
    • Heliosentris Copernicus (bertentangan dg Galileo)
    • Mind-body solution dari Descartes
         Nature philosophy : alam diatur menurut hukum yang pasti, empirik dan dapat dibuktikan lewat eksperimen. Memahami alam harus diikuti sikap mental pengujian fakta obyektif dan eksperimental.
         Implikasinya adalah munculnya diskusi tentang. ‘knowledge’ yang menyebabkan perkembangan ilmu dan metode ilmiah yang maju dengan pesat. Penekanan pada fakta-fakta yang nyata daripada pemikiran yang abstrak. Ilmu-ilmu eksakta yang menggunakan pendekatan empiri menjadi semakin dominan, sesuatu yang sampai sekarang juga masih dapat dirasakan pengaruhnya. Pada masa ini ilmu fisikalah yang dikenal sebagai ‘the queen of science’, dengan munculnya fisikawan besar seperti Newton.
 2. Pengaruh pada psikologi:
A. Sebagai bagian dari ilmu filsafat
         Pemikiran tentang manusia mau tidak mau ikut terpengaruh, meskipun demikian psikologi belum siap menjadi ilmu yang empiris karena diskusi tentang aktivitas manusia belum tuntas : apa yang menjadi obyek studi psikologi ? Oleh karena itu diskusi di masa ini terfokus pada hubungan soul-body dan bagaimana pengaruhnya dalam aktivitas manusia. Pandangan dua tokoh utama :
Rene Descartes (1596-1650)
  • Menekankan pada pentingnya self-awareness terhadap pengalaman kita, cogito ergo sum. Descartes menjadi filsuf pertama yang menekankan kekuatan faktor internal manusia sebagai satu-satunya kekuatan yang dapat dipercaya, dibandingkan dengan faktor eksternal. Ide-ide spritual, pemahaman tentang dimenasi waktu dan ruang, semua bersumber dari kekuatan internal, berbeda dari tradisi berpikir filsuf sebelumnya yang menganggap pemikiran ini berasal dari lingkungan eksternal.
  • Ide tentang soul-body melahirkan Cartesian dualism yang sangat populer dan digunakan oleh para filsuf lainnya juga :
    • Soul (dinyatakan dalam mind): sebuah entity yang berbeda dan terpisah dari body, lebih mudah dipahami oleh manusia karena ada proses self reflection/self awareness yang diasumsikan inherent pada manusia.
    • Body : entity fisik pada manusia yang tunduk pada prinsip mekanisme fisiologis, sama seperti yang terjadi pada hewan. Namun pada manusia, aktivitas fisik tunduk pada perintah mind.
  • Dengan demikian faktor mind-lah (kemampuan untuk self-reflection) yang membedakan manusia dari binatang dan menjadikannya makhluk yang secara intelektual lebih unggul.
            Hubungan antara mind-body bersifat psychophysical yang berpusat pada kelenjar pineal. Proses badaniah dipelajari dalam bidang fisiologis dan aspek mind dipelajari oleh psikologi. Descartes menjadi filsuf modern pertama yang mendefiniskan obyek studi psikologi sebagai mind.
Gottfried Wilhelm von Leibnitz (1646 – 1716).
  • Berasal dari Jerman. Tradisi filsafat Jerman sifatnya memandang proses mental secara lebih aktif. Body and soul tidak dipandang sebagai dualism, tetapi lebih dipandang sebagai aspek yang integratif dari aktivitas manusia. Mind memiliki unsur inherent yang dinamis, yang memungkinkannya berperan aktif terhadap lingkungan.
  • Pandangan yang lebih aktif ini tidak lepas dari konteks politis Jerman pada masa itu yang lebih bergejolak dibandingkan Inggris, dimana masih terjadi konflik antar agama yang disertai juga dengan konflik regional (Perang 30 tahun).
  • Leibnitz : “ Nothing is in the intellect that has not been in the senses, except the intellect itself”. Mind memiliki prinsip dan kategorinnya sendiri yang sifatnya innate dan esensial untuk pemahaman. Idea sifatnya innate, maka proses berpikir adalah proses yang terjadi tanpa henti , ada dimensi sadar dan tidak sadarnya.
  • Konsep monad sebagai energi pendorong pada setiap makhluk. Yang juga akan menentukan keunikan individu. Pada manusia, monad ini adalah mind.

B. Usaha untuk menjadikan pengetahuan mengenai manusia menjadi empiris:

         Menguatkan warna ‘natural science’ dari studi mengenai manusia. Pandangan seperti ini dipegang oleh aliran empiricism.
Pandangan utamanya :
  • Pengetahuan berasal dari pengalaman. Tidak mengakui adanya pengetahuan yang sifatnya bawaan. Diwakili oleh pandangan Locke tentang tabula rasa – manusia lahir bersih seperti tabula rasa dan pembentukannya tergantung banyaknya isi tabula rasa tsb.
  • Pengalaman bersumber pada pengolahan manusia, mulai dari pengolahan yang sederhana seperti sensasi (Locke), persepsi sebagai satu-satunya proses pengolahan (Berkeley) hingga yang lebih kompleks dan mendalam seperti refleksi.
  • Pengetahuan yang diperoleh dari pengolahan sederhana juga lebih sederhana namun lebih obyektif daripada pengetahuan yang diperoleh melalui proses mendalam. Penyebabnya adalah semakin sederhana, semakin sedikit melibatkan unsur subyektifitas manusia.
  • Mulai memikirkan tentang hukum-hukum asosiasi, misalnya contiguity dan similarity (Locke,Berkeley, Hume) dan cause-effect (Hume).
  • Mind diakui keberadaannya namun berbeda dari satu orang ke orang lain, karena isinya ditentukan oleh pengalaman org tsb.
  • Perbedaan intensitas dalam obyektifitas, mulai dari pandangan yang hanya mengakui keberadaan dunia riil (Locke) hingga yang lebih subyektif (Berkeley dengan pandangan Tuhan sebagai sumber data dan Hume dengan penekanan pada manusia).
  • Sumbangan utama pada psikologi : pengakuan adanya natural world and realistic world sehingga pengujian empiris menjadi penting, pengakuan pentingnya unsur pengalaman/lingkungan.
Warna rasional dan empiris sangat kuat mewarnai pemikiran tokoh-tokoh empiris:
Thomas Hobbes (1588 – 1679)
  • Filsuf ini berasal dari Inggris. Pada masanya Inggris sedang mengalami titik puncak di bidang politik dan ekonomi, muncul sebagai kekuatan nasionalis dominan di Eropa dan menguasai dunia dengan kolonisasinya. Oleh karena itu pemikiran tentang politik berkembang subur di Inggris.
  • Seorang empiris sejati, menyatakan bahwa segala yang eksis dapat diamati, konsep matter and motion.
  • Mind membentuk knowledge melalui asosiasi.. Sensasi yang dirasakan melalui pengalaman manusia diasosiasikan dan membentuk pengetahuan.
John Locke (1632-1704).
  • Berasal dari negara dan konteks sosial yg sama dengan Hobbes. Juga seorang empiris yang cukup berpengaruh pada jamannya. Sebagai seorang filsuf ia juga terlibat secara aktif dalam politik.
  • Hubungan soul-body : There is nothing in the mind that was not first in the senses. Faktor eksternal lebih kuat daripada faktor internal. Dikuatkan pula dengan teori tabula rasanya.
  • Sensasi-self reflection-ideas. Meskipun pada awalnya mind dikembangkan melalui unsur badaniah, namun kualitas mind penting bagi Locke. Dua mekanisme mental yang penting : asosiasi dan self-reflection.
George Berkeley (1685 – 1753).
  • Mengkritik tajam Locke, memiliki pandangan yang bertentangan dengan Locke. Seolah-olah realitas muncul dari konteks badaniah. Menurut Berkeley realitas muncul dari persepsi kita yang didorong oleh prinsip asosiasi. Jadi mind mendominasi body (seperti Descartes).
C. Asosiasionisme:
  • Merupkan aliran yang berkembang dari empirism. Sumber pengetahuan masih sekitar ide dan sensasi (James Mill).
  • Para ahli di bidang ini menekankan pada prinsip asosiasi sebagai mekanisme untuk mendapatkan pengalaman. Jadi isi dari mind adalah pengalaman yang didapatkan melalui proses asosiasi terhadap rangsang lingkungan. Pemikiran tentang asosiasi ini terutama berkembang di Inggris dan awal bagi penekanan pada belajar dan memori.
  • Penjelasan asosiasi berfokus pada penemuan hukum-hukum asosiasi, seperti law of contiguity-informasi yang muncul bersamaan secara saling sambung menyambung akan diasosiasikan menjadi satu pengetahuan (Hartley, James Mill), law of similarity- informasi yang sama akan dikaitkan, law of intensity-adanya kombinasi dari elemen dasar yang membentuk sesuatu yang berbeda dari masing=masing elemennya (John S. Mills) . Pada intinya, penginderaan dan feelings dapat membentuk satu keterkaitan dan masuk bersama ke dalam mind sebagai satu pengetahuan, sehingga apabila salah satu muncul yang lain akan ikut dimunculkan (Bain)
  • Inisiatif untuk menjelaskan proses asosiasi melalui proses fisiologis, penggambaran proses neurologis otak dan refleks syaraf, menjadi pelopor untuk physiological psychology (cth. Hartley, Bain).
          Usaha Menerangkan Psikologi secara Ilmiah Semu.Ada masanya juga psikologi dicoba untuk dijelaskan melalui beberapa ilmu yang berkembang tanpa metode yang betul-betul ilmiah. Ilmu –ilmu ini dikenal sebagai ilmu semu, seperti phrenologi, phisiognomi, dan mesmerisme. Gejala yang sampai sekarang terasa pada munculnya ‘parapsikologi’.
2.      Psikologi sebagai bagian dari ilmu faal
             Psikologi sebagai bagian dari ilmu faal muncul pada abad 19 seiring dengan kemajuan ilmu alam (natural science) . Pada fase ini pemikiran tentang manusia terus berkembang dan banyak dilakukan eksplorasi fisiologis manusia secara empiris.
           Pada fase inilah mulai ada jawaban yang empirik dan ilmiah dari pertanyaan-pertanyaan yang kerap muncul di masa lalu:
Apa itu jiwa (soul)?
Bagaimana bentuk konkritnya?
Bagaimana mengukurnya?
Bagaimana hubungan body-soul ?
Konteks keilmuan abad 19 :
  • Riset empirik yang banyak dilakukan pada bidang fisiologis mencakup : aktivitas syaraf, sensasi/penginderaan, dan fisiologis otak. Hasil riset pada ketiga bidang ini sangat signifikan membuka wawasan mengenai manusia sehingga memperkuat pandangan para ilmuwan saat itu akan pentingnya strategi empiris yang sistematis dalam setiap bidang keilmuan.
  • Bagi psikologi hasil-hasil ini memberi jalan untuk membangun dasar fisiologis bagi operasi-operasi mental. Penting untuk memahami secara logis dan empiris mengenai aktivitas mental itu sendiri
  • Menjelaskan posisi ilmu psikologi modern yang dekat dengan bidang kedokteran dan psikiatri.
Francis Bacon (1561-1626)
  • Menganjurkan metode induktif sebagai metode utama dalam science karena berangkat dari hasil observasi terhadap sesuatu yang nyata. Dengan demikian ia menantang pendapat Aristoteles dan the Scholastic bahwa metode deduktif – induktif sama kuatnya.
  • Dalam konteks seperti di ataslah dikatakan bahwa Bacon ‘tidak setuju’ dengan rasionalisme yang spekulatif, meskipun idenya sendiri juga sangat rasional.
  • Dengan kembali pada fakta yang nyata, Bacon berharap science dapat terbebas dari prinsip-prinsip yang spekulatif namun selama ini sangat kuat dipegang
          Ada 3 pergerakan utama di bidang science yang mempengaruhi berdirinya psikologi sebagai ilmu mandiri dan bagaiamana perkembangan disiplin ilmu itu di abad 20 :
1.      Kemajuan-kemajuan di bidang fisiologis, meliputi riset-riset di bidang aktivitas syaraf , sensasi, dan otak yang memberi dasar empiris bagi fungsi-fungsi yang sebelumnya dianggap fungsi dari soul (jiwa), yang juga sebelumnya dianggap sangat abstrak.

Tokoh-tokoh penting :
  • Charles Bell-Francoise Magendie : fakta bahwa syaraf sensoris dan motorik beroperasi secara terpisah dan searah. Mengikis anggapan bahwa syaraf manusia mencover keduanya, mengkomunikasikan informasi motorik kepada urat syaraf melalui ‘getaran’ yang diperoleh dari informasi sensoris.
  • Johannes Mueller : lebih menekankan pada proses transmisi syaraf. Doctrine of Specific Nerve Energies : transmisi syaraf adalah proses yang menjembatani antara sensed object dengan mind. Maka awareness manusia, bukan semata-mata disebabkan oleh objek tertentu, juga bukan karena jiwa, tapi diperantarai oleh proses transmisi syaraf. Pandangan ini melengkapi penjelasan ttg peran mind dan consciousness (cogito ergo sum) dan menjadi dasar bagi penelitian mengenai lokasi spesifik dari fungsi tertentu di otak.
  • Marshall Hall : refleks dikomandoi oleh syaraf tulang belakang (spinal cord) dan bukan syaraf batang otak. Mendiferensiasikan gerakan tubuh ke dalam 4 kelompok : voluntary movement, respiratory movement, involuntary movement, dan refleks. Pandangannya ini memicu diskusi mengenai kesadaran yang sangat relevan bagi perkembangan psikologi.
  • Paul Broca (1824 – 1880), menemukan pusat Broca yang mengendalikan aktivitas bicara. Ia merupakan tokoh penting dalam studi fisiologis otak. Studi ini berkembang dari phrenology (Gall & Spurzheim), satu-satunya pendekatan yang waktu itu berfokus pada otak . Fokus utama dari eksplorasi fisiologis otak adalah untuk menemukan lokasi fisiologis dari bagian-bagian mental, bagian tertentu dari otak yang merupakan central dari aktivitas mental manusia.
  • Pierre Flourens (1794-1867), mencoba pendekatan dengan bukti non-pathological (melengkapi Broca), menemukan pusat-pusat penting dari otak yaitu :
    • Cerebral hemisphere : willing, judging, memory, seeing, and hearing
    • Cerebellum : motor coordination
    • Medulla oblongata: mediation of sensory and motor function
    • Corpora quadrigemina : vision
    • Spinal cord : conduction
    • Nerves : excitation
  • Para ahli yang bersibuk diri dengan studi fisiologis dari sensasi, berusaha menguraikan anatomi dari reseptor indrawi dan menganalisis pengalaman psikologis yang dihasilkan berdasarkan proses fisiologisnya. Tokoh : Thomas Young (1773-1829) : trichromatic theory, Jan Purkinje (1787-1869) : hubungan sistematis antara struktur mata dan syaraf ke otak untuk menjelaskan perceptual error.
2.      Psychophysics, adalah bagian dari disiplin ilmu fisiologi yang memfokuskan pada subjective experience dalam mempelajari hubungan antara stimulus fisik dan sensasinya. Sensasi yang dirasakan oleh pancaindera manusia dipandang sebagai refleksi hubungan soul-body dan tidak semata-mata dijelaskan dari sudut anatomi atau fisik saja. Psychophysics merupakan tahap transisi yang krusial antara bidang fisiologis dengan awal pemunculan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu. Oleh karena itu para tokoh psychophysics dapat dianggap sebagai tokoh pendiri psikologi.
  Tokoh-tokoh penting :
·         Gustav Theodor Fechner : hubungan antara sensasi dan persepsi, menganggap psikofisik sebagai sebuah ilmu eksak untuk menjelaskan hubungan antara body and mind. Ia tidak setuju dengan materialism, yaitu bahwa mind harus selalu diwujudkan dalam bentuk nyata baru bisa diteliti, sebaliknya ia berpegang pada tradisi pemikiran Jerman dimana mind diangagp sebagai sesuatu yang aktif dan memiliki struktur secara mandiri. Ia mengajukan ilmu empiris tentang mind dimana meningkatnya bodily and sensory stimulations dianggap sebagai indicator atau measurement untuk intensitas pengalaman mental.
Konsep utama : ambang atau threshold. (absolute threshold, just noticeable threshold).
·         Hermann von Helmholtz (1821-1894)
            Seorang pelopor psikologi eksperimen, banyak menggunakan waktu reaksi dalam penelitiannya, merupakan sesuatu yang masih banyak digunakan dalam psi eksperimen sampai sekarang.
             Konsepnya : unconscious inference : penyimpulan hasil persepsi manusia diperoleh berdasarkan proses yang berulang sehingga akhirnya menjadi sesuatu yang tidak disadari ,‘irresisitible’, sekali terbentuk sulit secara sadar untuk dimodifikasi, dan digeneralisasi kepada stimulus yang mirip di lingkungan. Konsep penting lain : unbewusster schluss
              Para tokoh psychophysics menunjukkan area studi yang tidak dengan mudah diakomodasi dalam ilmu fisika, fisiologis, atau filosofi. Area studi inilah yang berkembang menjadi obyek studi psikologi.
3.      Evolusi, yang dikemukakan oleh Charles Darwin (1809-1882) merupakan titik penting dalam pemikiran mengenai manusia karena mengajukan ide bahwa keberadaan manusia merupakan bagian dari proses adaptasi makhluk hidup dengan alam, manusia bukan secara spesial diciptakan dan dengan demikian perbedaannya dengan makhluk lain hanya bersifat gradual, bukan kualitas. Pandangan ini penting dan relevan sekali bagi perkembangan psikologi, terutama memberikan ide mengenai individual difference, perbedaan antar individu juga sifatnya hanya gradual, bukan kualitas.
Tokoh penting :
Francis Galton (1822 – 1911) : dikenal sebagai bapak psikologi eksperimental Inggris. Menampilkan aspek praktikal dan kegunaan dari teori evolusi Darwin, mentransfer teori Darwin dari konteks biologis ke dalam konteks perbaikan dalam masyarakat.
Perkembangan dalam dunia psikiatri
Sumbangan dari dunia psikiatri terutama pada eksplorasi gejala-gejala patologis kejiwaan dan pengayaan dalam bidang metodologi. Bidang ini terutama terkait dengan psikologi klinis.
Tokoh :
·         Kraepelin : penggolongan psikosis, determinan fisiologis dari kelainan jiwa, penyusunan tes psikologis untuk penderita kelainan jiwa.
·         Kretschmer: hubungan bentuk tubuh dan kelainan kejiwaan, dan tipologi bawaan





PSIKOLOGI SEBAGAI ILMU MANDIRI
Konteks sosial dan intelektual
  • Pada akhir abad 19, dengan perkembangan natural science dan metode ilmiah secara mapan sebagaimana diuraikan di bagian sebelumnya, konteks intelektual Eropa sudah ‘siap’ untuk menerima psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri dan formal.
  • Tanah kelahiran psikologi adalah Jerman. Oleh karenanya munculnya psikologi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial Jerman dan orientasi intelektual Wilhelm Wundt, orang pertama yang memproklamirkan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu.
1. Konteks sosial Jerman
  • Konteks ilmiah Jerman pada abad 19 ditandai dengan mulai berdirinya institusi universitas dengan misinya untuk membentuk manusia berkualitas (berbudaya dan memiliki integritas) dan penyedia tenaga kerja yang professional.
  • Ilmu psikologi didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang menyumbang pada pembentukan Bildungsburger, culturally educated citizens. Maka psikologi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai kualitas manusia ideal Jerman. Sebagai sebuah ilmu yang hubungannya paling dekat dan paling langsung dengan manusia, psikologi berada di antara dua kepentingan : hubungannya dengan ilmu-ilmu yang kongkrit dan aplikatif dan hubungannya dengan ilmu-ilmu kemanusiaan seperti filasafat, teologi.
  • Wundt sendiri menganggap psikologi sebagai bagian dari filsafat. Namun dengan berkembangnya karir pribadinya, ia mulai menentukan batas-batas yang dapat dilakukan psi. sebagai sebuah ilmu alam, khususnya psikologi eksperimen. Dasar berpikir Wundt tentang psikologi menunjukkan bagaimana posisi psikologi dalam dua kepentingan itu sendiri. Baginya kesadaran manusia (consciousness) terdiri dari elemen-elemen. Namun elemen ini tergabung dalam kesatuan yang lebih besar melalui human will.
3.      Riwayat dan pemikiran Wundt.
         Wilhelm Wundt (1832-1920) dilahirkan di Neckarau, Baden, Jerman, dari keluarga intelektual. Ia menamatkan studi kesarjanaannya dan memperoleh gelar doktor di bidang kedokteran dan tertarik pada riset-riset fisiologis. Ia melakukan penelitian di bidang psikofisik bersama-sama dengan Johannes Mueller an Hermann von Helmholtz. Karya utamanya pada masa-masa ini adalah Grundzuege der Physiologischen Psychologie (Principles of physiological psychology) pada tahun 1873-1874.
           Wundt memperoleh posisi sebagai professor dan mengajar di Universitas Leipzig dimana ia mendirikan Psychological Institute. Laboratorium psikologi didirikan pada tahun 1879, menandai berdirinya psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu ilmiah. Di awal berdirinya laboratorium ini, Wundt membiayainya dari kantongnya sendiri sebagai sebuah usaha privat. Setelah tahun 1885, lab ini baru diakui oleh universitas dan secara resmi didanai oleh universitas. Laboratorium ini berkembang dengan pesat sebelum akhirnya gedungnya hancur dalam PD2.
            Selama di Leipzing, Wundt adalah seorang pengajar yang sangat produktif, membimbing 200 mahasiswa disertasi, mengajar lebih dari 24.000 mahasisiwa, serta menulis secara teratur.Pada tahun 1900 ia memulai karya besarnya, Voelkerpsychologie, yang baru diakhirinya pada tahun 1920, tahun dimana ia wafat. Karya ini berisi pemikirannya tentang sisi lain dari psikologi, yaitu mempelajari individu dalam society, tidak hanya inidvidu dalam laboratorium. Karya ini dapat dikatakan sebagai jejak pertama Psikologi Sosial.
Pemikiran Wundt terbagi atas beberapa point penting:
  • Adanya ‘an alliance between two science’, yaitu fisiologi dan psikologi. Fisiologi adalah ilmu yang menginformasikan fenomena kehidupan sebagaimana yang kita persepsikan melalui penginderaan eksternal sedangkan psikologi adlaah yang memungkinkan manusia melihat ke dalam dirinya dari sisi internal dirinya sendiri. Terkait dengan ikatan kedua cabang ilmu ini, ada beberapa pemikiran penting:
    • Secara metodologi aliansi ini berarti apparatus dan teknik pengukuran yang ada di bidang fisiologi diaplikasikan kepada bidang psikologis, misalnya dengan waktu reaksi. Berdasarkan hal inilah, Wundt menamakan cabang ilmu baru yang ditemukannya ini sebagai psikologi eksperimental. Bagi Wundt metode eksperimen lebih ‘layak’ digunakan untk eksplorasi mind daripada yang biasa digunakan, yaitu ‘introspection’. Sebenarnya secara tradisional, Wundt bergantung pada observasi introspektiv dari alam sekitar dan dunia, dimana dipisahkan antara usaha untuk mengidentifikasi elemen-elemn mental dan mengidentifikasi proses mental yang mengintegrasikan elemen-elemen tersebut ke dalam pengalaman atau obyek yang koheren.
    • Dengan aliansi ini psikologi menjadi lebih terbantu untuk menghadapi tantangan dunia natural science. Ilmu psikologi yang secara tradisional mempelajari soul (jiwa), kini mendapat justifikasinya selama elemen soul tsb di jabarkan ke dalam elemen fisiologis terkecil, misalnya susunan system syaraf. Maka dimungkinkan juga terjadinya reduksionism operasi mental ke dalam operasi neurologis.
    • Melalui aliansi dengan ilmu yang lebih mapan kedudukannya seperti ilmu fisiologis, psikologi lebih mudah diterima dalam khasanah ilmu pengetahuan sebagai sebuah ilmu yang mandiri
  • Pandangan tentang psikologi sebagai ilmu dan metodenya.
  • Pemahaman Wundt tentang psikologi relatif konstan, yaitu “..as the study of the mind and the search for the laws that govern it..” (Leahey, 2000 : 253). Namun demikian, pandangannya mengenai metode paling tepat untuk menggali mind dan ruang lingkup mind itu sendiri berubah sejalan dengan perkembangan kematangan intelektualitasnya.
         Pada awalnya, Wundt menggolongkan bahwa mind mencakup proses-proses ketidaksadaran / unconciousness (sebagai karakteristik dari soul). Metode eksperimen adalah jalan untuk membawa penelitian tentang mind dari level kesadaran (consciousness) kepada proses-proses yang tidak sadar. Dengan kata lain, metode eksperimen adalah cara untuk membawa mind ke dalam batas-batas ruang lingkup natural science yang obyektif dan empiris.Dalam perkembangannya, Wundt mengakui bahwa metode eksperimental dalam psikologi fisiologi sangat kuat untuk menggali elemen-elemen soul yang mendasar (misalnya persepsi, emosi, dll). Namun di atas fenomena-fenomena mendasar ini masih ada proses-proses mental yang lebih tinggi (higher mental process) yang mengintegrasikan fenomena dasar tsb. Higher mental process ini muncul dalam bentuk kreativitas mental dan menjadi kekuatan sebuah peradaban dan bersifat abadi, yaitu : bahasa, mitos, custom, budaya. Pada tahap ini Wundt membatasi fungsi soul hanya pada tahap kesadaran. Proses-proses ketidaksadaran tidak lagi menjadi fokus dari ‘study of the mind’.
            Research Method for Psychology, adalah fokus pemikiran Wundt selanjutnya. Idenya tentang metode juga berkembang sejalan dengan kematangan proses intelektualnya.
Metode yang pertama kali dianjurkan Wundt sebagai strategi ilmiah untuk eksplorasi psikologis adalah eksperimental self-observation/introspection, pengembangan dari metode perenungan (armchair subjective introspection) yang sering dipakai dalam filsafat. Metode ini dilakukan oleh Wundt dg cara sangat terkontrol sehinga dapat direplikasi. Metode ini dilakukan di bawah pengawasan ketat dari seorang eksperimenter yang terlatih. Subyek dimasukkan ke dalam situasi lab yang terkontrol dan diminta melaporkan secara sistematis pengalaman yang dihasilkan dari situasi tersebut. Eksperimenter mencatat hasil ini secara mendetil.
            Metode eksperimental introspection di atas sangat diutamakan oleh Wundt dalam penelitian-penelitiannya pada masa ia memahami mind sbagai studi yang mencakup unconsciousness. Metode ini dianggap lebih unggul daripada introspeksi yang tradisional (armchair introspection) karena lebih mampu menjangkau tahap unconsciousness daripada yang terakhir.Selain eksperimental introspection, Wundt menemukan metode lain, yaitu comparative-psychological dan historical-psychological. Metode eksperimental introspection hanya bermanfaat pada subyek dewasa yang normal. Untuk anak-anak, binatang, dan individu dengan gangguan kejiwaaan dilakukan comparative-psychological guna melihat perbedaan mental mereka. Sedangkan historical-psychological adalah metode untuk melihat perbedaan mental individu dari ras dan kebangsaan yang berbeda. Sebagai seorang yang dipengaruhi pemikiran Darwin, Wundt percaya bahwa perkembangan psikologis individu dapat dipelajari dengan cara melihat sejarah perkembangan manusia itu sendiri. Pada saat pandangan Wundt tentang mind terfokus pada level kesadaran, metode introspection mulai dibatasi penggunaannya, dan Wundt beralih pada metode eksperimen laboratorium modern, dimana yang dipentingkan adalah kemungkinan duplikasi yang eksak.
             Fokus studi Wundt dapat dilihat melalui dua karya besarnya, Principles of Physiological Psychology dan Voelkerpsychologie.
             Principles of Physiological Psychology, dalam karyanya ini Wundt memfokuskan pada hasil-hasil eksperimennya tentang ingatan, emosi, dan abnormalitas kesadaran.
Hasil eksperimen tentang ingatan akan simple ideas menghasilkan jumlah ide sederhana yang dapat disimpan dalam ingatan manusia (mind), fakta bahwa ide yang bermakna akan lebih diingat daripada yang muncul secara random, serta karakteristik dari kesadaran manusia yang bersifat selektif. Konsep penting yang muncul adalah apperception, suatu bentuk operasi mental yang mensintesakan elemen mental menjadi satu kesatuan utuh, juga berpengaruh dalam proses mental tinggi seperti analisis dan judgement. Studi Wundt tentang emosi dan feelings menghasilkan pembagian kutub-kutub emosi ke dalam tiga dimensi :
    • Pleasant vs unpleasant
    • High vs low arousal
    • Concentrated vs relaxed attention
              Teori ini dikenal sebagai the three dimensional theory namun bersifat kontroversial.Ide tentang abnormalitas kesadaran dari Wundt dibangun melalui diskusi-disksui dengan para psikiater terkenal masa itu, Kretschmer dan Kraepelin. Ide Wundt tentang schizoprenic adalah hilangnya kontrol appersepsi dan kontrol dalam proses atensi. Akibatnya proses berpikir hanya bersifat rangkaian asosiasi ide yang tidak terkontrol.
Voelkerpsychologie, adalah karyanya yang berfokus pada metode historical psychological. Mind individu adalah hasil dari sebuah perkembangan species yang panjang. Maka usaha untuk memahami perkembangan mind harus dilakukan dengan cara menjajagi perkembangan sejarah peradaban manusia. Sejarah adalah cara untuk sampai pada psikologi manusia secara intuitif.
             Dalam eksplorasi sejarah perkembangan ini, Wundt sampai pada kajian yang detil dan sistematis tentang perkembangan bahasa manusia. Hasil kajian ini dianggap sebagai prestasi besar dalam dunia psikologi dan meletakkan dasar bagi bidang psikolinguistik. Wundt memandang bahasa dalam dua seginya, dari aspek linguistik dan aspek kognitif.                 
             Bahasa menggambarkan bagaiamana proses kognitif berjalan dan menggambarkan juga tingkat abstraksi individu.
             Jasa utama Wundt dalam bidang psikologi adalah usahanya untuk memperjuangkan diterimanya psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri. Ide-ide Wundt sendiri tidak bertahan lama dan bahkan murid-muridnya tidak banyak mempopulerkan pemikirannya. Dalam konteks perkembangan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu,Wundt lebih tepat dianggap sebagai seorang figur transisi yang menjembatani aspek filosofis dari psikologi di masa lalu dengan ciri terapan dan natural science dari psikologi di masa depan. Para murid Wundt juga lebih tertarik untuk mengembangkan psikologi ke dua arah tsb : natural science dan applied science.
3. Strukturalisme: E.B. Titchener
             E.B. Titchener adalah salah satu murid Wundt yang dianggap paling mendukung pandangan Wundt, meskipun sebenarnya banyak pandangan Wundt yang ditentangnya, dan akhirnya dia mengembangkan alirannya sendiri, structural psychology.
            Titchener berkebangsaan Inggris. Ia belajar di Oxford dalam bidang filsafat sebelumnya beralih ke fisiologi. Berdasarkan pengalamannya menterjemahkan buku Wundt ke dalam bahasa Inggris, Titchener tertarik pada ajaran Wundt dan pindah ke Leipzig untuk menjadi murid Wundt. Setelah menempuh pendidikan di bawah Wundt dan sempat mengajar sebentar di Inggris, Wundt pindah ke Amerika, mengajar di Cornell University hingga akhir hayatnya di tahun 1927. Selama masa tinggalnya di Amerika ini structural psychology yang dijalaninya menemukan tantangan pada aliran Psikologi lainnya yang khas Amerika, seperti fungsionalisme dan behaviorisme. Namun Titchener tidak terpengaruh kepada dua aliran besar tsb dan tetap berpegang pada strukturalisme hingga akhir hayatnya.
             Aliran strukturalisme mendasarkan diri pada konsep utama Titchener, yaitu sensation. Konsep utama ini membawanya kepada pertentangan dengan Wundt dan konsep apperceptionnya. Berbeda dengan apperception yang merupakan hasil kesimpulan, sehingga masih memungkinkan subyektivitas, sensation adalah hasil pengalaman langsung, sehingga lebih obyektif. Lagipula proses atensi yang menjadi fungsi apperception selalu dapat dikembalikan kepda sensasi menurut Titchener
Tiga pemikiran utama strukturalisme Titchener:
  • Identifikasi elemen sensation yang mendasar. Semua proses mental yang kompleks dapat direduksi ke dalam elemen mendasar ini. Sebagai contoh, Titchener menemukan 30.500 elemen visual, empat elemen pengecap, dsb. Titchener menggunakan metode experimental introspection untuk menggali elemen sensasi dasar ini, metode yang dipelajarinya dari Wundt. Namun di tangan Titchener, metode ini lebih elaboratif, karena sifatnya tidak hanya deskriptif tetapi juga analisis yang retrospektif.
  • Identifikasi bagaimana elemen dasar sensasi ini saling berhubungan untuk membentuk persepsi, ide dan image yang kompleks. Hubungan ini bersifat dinamis dan selalu berubah sesuai dengan berubahnya elemen dasar, jadi bukan proses asosiasi.
  • Menjelaskan bekerjanya mind. Titchener tidak setuju bahwa mind dijelaskan melalui proses psikologis (higher mental process) seperti yang dilakukan Wundt. Mind harus dijelaskan berdasarkan proses fisiologis, yaitu aktivitas sistem syaraf. Karena proses fisiologis lebih observable daripada proses psikologis.
            Aliran strukturalisme tidak berkembang menjadi aliran yang besar. Aliran ini menghilang bersamaan dengan wafatnya Titchener.
4.      Psikologi sebagai ilmu yang mandiri
Memasuki abad ke-20, psikologi berkembang dalam berbagai school of thought. Kalau Wundt meletakkan dasar bagi psikologi dengan pandangan strukturalisme, maka selanjutnya berbagai aliran utama yang muncul adalah sebagai berikut.
·         Psikologi strukturalisme / Eksperimen menekankan pada elemen mental, bahwa mental (jiwa) bisa diempiriskan dengan proses fisiologis
·         Psikologi Gestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih kecil karena dengan demikian, makna dari jiwa itu sendiri berubah sebab bentuk kesatuannya juga hilang. Menekankan pada fenomenologis dalam aktifitas mental namun tetap empiris. (pindah ke amerika tetapi sulit berkembang akibat aliran behaviorisme)
·         Psikoanalisa mengikuti keaktifan mental dari Gestalt (Freud dengan psikodinamikanya pada level kesadaran dan non kesadaran) namun tidak empiris (mencegah bergantung pada empirisme). Tidak seperti ke dua aliran sebelumnya dijerman, psikoanalisa berkembang bukan dari riset para akademisi, tapi berdasarkan pengalaman dari praktek klinis hipnosis dalam menangani pasien histeria.
·         Psikologi Fungsionalisme penekanan pada fungsi mental bukan hanya penjabaran elemen-elemen mental (fisiologis)
·         Psikologi Behaviorisme menyatakan bahwa jiwa atau proses mental bisa diempiriskan melalui perilaku nyata bukan fisiologis
·         Psikologi Humanistik menyumbangkan arah yang positif dan optimis bagi pengembangan potensi manusia, disebut sebagai yang mengembalikan hakikat psikologi sebagai ilmu tentang manusia, perspektif dan metodenya bersumber dari filsafat setelah perang dunia II
Dengan penjelasan yang tertera sebelumnya kita bisa memahami perlu proses panjang sehingga menghasilkan ilmu mandiri psikologi.
  
DAFTAR PUSTAKA
·         Brennan, J.F. (1991). History and Systems of Psychology. New Jersey : Prentice Hall Inc.
·         Lundin, (1991). Theories and Systems of Psychology. 4 rd Ed. Toronto: D.C. Heath and Company.
·         Brennan, James F. 2006. Sejarah dan Sistem Psikologi. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada
·         http://www.psikologizone.com/sejarah-dan-aliran-psikologi
·         Sarwono Sarlito W. Pengantar Psikologi Umum. Rajawali Pers.
·         Rahman Shaleh, Abdul. Psikologi. Kencana Prenada Media Group.
·         Baraja, Abubakar. Psikologi Perkembangan. Studia Press.
·         Abu Ahmadi,H. 1983 . Psikologi Umum. Surabaya : PT. Bina Ilmu.
·         Gazali, M.A. dan H. Birkenfeld.1977.Ilmu Jiwa. Bandung : Ganaco N.V.




Tujuan Mempelajari Psikologi

1.     Oleh: Ratna Sari
Tujuan utama mempelajari psikologi adalah memahami seluk beluk kehidupan rohaniyah yang merupakan kekuatan penggerak bagi segala kegiatan hidup lahiriah dalam alam sekitar.
2.    Untuk lebih mengenal diri sendiri.
3.    Lebih mengerti dan memahami orang lain.
4.    Bisa memecahkan masalah sendiri
5.    Membantu memecahkan masalah orang lain.
6.    Lebih luwes bergaul dengan orang lain.
7.    Untuk lahan mencari nafkah karena pada zaman sekaran psikologi di jadikan lah pekerjaan.
8.    Mengurangi orang-orang stress.
9.    Untuk mengkaji bagaimana manusia membuat perkaitan antara perkataan atau idea.
10.  Menemukan potensi-potensi yang ada baik dalam diri sendiri maupun orang lain.

Definisi-definisi Psikologi

Disusun oleh: Ratna Sari
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.
Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Menurut para ahli
Crow & Crow :
Pschycology is the study of human behavior and human relationship. (Psikologi ialah tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik berupa manusia lain (human relationship) maupun bukan manusia: hewan, iklim, kebudayaan, dan sebagainya.

Sartain :
Psychology is the scientific study of the behavior of living organism,with especial attention given to human behavior. (Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku organisme yang hidup, terutama tingkah laku manusia).

Bruno (1987) :
Pengertian Psikologi dibagi dalam tiga bagian, yaitu: Pertama, psikologi adalah studi (penyelidikan) mengenai “ruh”. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “kehidup mental”. Ketiga, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “tingkah laku” organisme.

Chaplin (1972) dalam Dictionary of psychology
Psikologi ialah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan.

Ensiklopedia Pendidikan, Poerbakawatja dan Harahap (1981)
Psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan – kegiatan jiwa.
Richard Mayer (1981) :
Psikologi merupakan analisi mengenai proses mental dan struktur daya ingat untuk memahami perilaku manusia.
Plato:
Psikologi ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat,hakikat,dan hidup manusia.
Aristoteles:
Badan adalah materi dan jiwa dalam bentuk dan masing-masing berperan sebagai potensi dan aktus.
Thomas Aquinas (1225-1274)
Manusia adalah entitas dinamis, dimotivas   secara internal oleh jiwa.
Francis Bacon (1561-1626)
Segala pengetahuan didapat melalui persepsi  dan pengalaman.
Rene Descartes (1596-1650)
Ilmu pengetahuan mengenai gejala pemikiran atau gejala kesadaran manusia, terlepas dari badannya.
Woodworth dan Marquis
Mendefinisikan psikologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas individu dari sejak masih dalam kandungan sampai meninggal dunia dalam hubungannya dengan alam sekitar. Adapun sasarannya adalah aktivitas rohaniyah yang pada hakikatnya menimbulkan aktivitas jasmaniyah itu.
Wilhem Wundt (1832 – 1920)
Memandang bahwa psikologi adalah sebagai ilmu yang menyelidiki pengalaman –pengalaman yang timbul dalam diri mannusia seperti perasaan penca indera, perasaan (feeling) kita, pikiran dan kehendak ; bukannya menyellidiki pengal;aman-pengalaman yang timbul dari luar diri manusia, karena pengalaman-pengalaman dari luar (eksternal) tersebut menjadi objek penyelidikan ilmu alam.
John Brodus Watson (1842-1910)
Berpendapat bahwa Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku lahiriyah, bukannya mempelajari tentang kesadaran, dengan menggunakan metode obsevasi yang objektif seperti rangsang (stimulus) dan response (jawaban) terhadap rangsang-rangsang.
Maka, dapat disimpulkan bahwa Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari atau menyeldiki serta membahas secara ilmiah dengan berbagai metode tentang hidup kejiwaan manusia serta tingkah laku yang ditimbulkannya dalam hubungannya dengan keadaan sekitar serta proses adaptasi terhadapnya dan dari pengalaman yang telah terjadi individu itu akan memeplajari hidupnya dan cendrung ingin menjadi yang terbaik di lingkungannya..

Sejarah Psikologi

Disusun oleh: Ratnasari
Psikologi masih sebagai bagian dari filsafat. Filsafat adalah Ilmu yang mencari hakikat sesuatu dengan menciptakan pertanyaan dan jawaban secara terus menerus sehingga mencapai pengertian yang hakiki yakni dapat dipahami.
          Psikologi masih merupakan bagian dari Filsafat pada jaman sebelum Masehi dan abad pertengahan. Objeknya tetap HAKIKAT JIWA metodenya masih mengunakan ARGUMENTASI LOGIKA.
          Sejak zaman filsuf-filsuf besar seperti Socrates (469-399 SM) telah berkembang filsafat mental yang membahas secara jelas persoalan “jiwaraga”.
Rene Descartes (1596-1650) mengemukakan bahwa manusia memiliki dimensi jiwa dan raga yang tidak dapat dipisahkan.
Pada awal abad 19 psikologi mengalami kemajuan yang cukup pesat, Gustaf Tehodore Fechner (1801-1650) dan Ernest Heinrich Weber (1795-1878) menemukan suatu hukum penginderaan melalaui eksperimen yang dipublikasikan pada tahun 1860 dalam buku Element of Pschology.
Puncaknya adalah ketika Wilhem Wund (1832-1920) pada tahun 1979 mendirikan laboratorium psikologi pertama di Leipzig Jerman dan peristiwa ini menandai psikologi sebagai ilmu mandiri.
Wundt mendeklarasiikan Psikologi sebagai Ilmu di laboratoriumnya tahun 1879 – yang dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu – pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani kuno.
Memasuki abad ke-20, psikologi berkembang dalam berbagai school of thought. Kalau Wundt meletakkan dasar bagi psikologi dengan pandangan strukturalisme, maka selanjutnya berbagai aliran utama yang muncul adalah sebagai berikut.
  • Fungsionalisme
  • Behaviorisme
  • Psikoanalisa
  • Psikologi Gestalt
  • Psikologi Humanistik
Tahun 1883 berdiri laboratorium serupa di Universitas John Hopkins. Tahun 1890 terbit buku The Priciples of Psychology karangan William James (1842-1910) yang setahun kemudian menjadi profesor psikologi dan sejak itu hampir semua universitas di Amerika memiliki fakultas yang mandiri.
Di Indonesia perkembangan psikologi dimulai pada tahun 1953 yang dipelopori oleh Slamet Iman Santoso dengan mendirikan lembaga pendidikan psikologi pertama yang mandiri dan pada tahun 1960 lembaga tersebut sejajar dengan fakultas-fakultas lain di Universitas Indonesia dan kemudian dikembangkan di UNPAD dan UGM.
Belakangan ini kemajuan psikologi semakin pesat, ini terbukti dengan bermunculannya tokoh-tokoh baru, misalnya BF Skinner (pendekatan behavioristik), Maslow (teori aktualisasi diri) Roger Wolcott (teori belahan otak), Albert Bandura (social learning teory), Daniel Goleman (kecerdasan emosi), Howard Gadner (multiple intelligences) dan sebagainya.

Pengertian Psikologi Menurut Para Ahli

Di Susun Oleh: Desy Pratiwi 1210401018 Kelas / Jurusan : IIA/ BPI
1.      Crow & Crow
“Psychology is the study of human behavior and human relationship.”
(Psikologi adalah tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik berupa manusia lain [human relationship] maupun bukan manusia; hewan, iklim, kebudayaan, dan sebagainya).
2.      Sartain
“Psychology is the scientific study of the behavior of living organism, with especial attention given to human behavior.”
(Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku organisme yang hidup, terutama tingkah laku manusia).
3.      Bruno (1987)
Pengertian Psikologi dibagi dalam 3 bagian, yaitu :
1. Psikologi adalah studi (penyelidikan) mengenai “ruh”.
2. Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai ”kehidupan mental”.
3. Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai ”tingkah laku” organisme.
4. Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychology
”Psychology is the science of human and animal behavior, the study of organism in all its variety and complexity as it respond to the flux and flow of the physical and social events which make up the environment.”
(Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan alam sekitar dan peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang mengubah lingkungan).
4.      .Ensiklopedia Pendidikan, Poerbakawatja dan Harahap (1981)
Psikologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa.
5.      Richard Mayer (1981)
Psikologi merupakan analisis mengenai proses mental dan struktur daya ingat untuk memahami perilaku manusia.
6.       Ernest Hilgert (1957)
”Psychology may be defined as the science that studies the behavior of men and other animal, etc.”
(Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan lainnya).
7.      Henry Gleitman (dalam Syah, 1995 : 8)
Psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan, dan cara mereka melakukan sesuatu, dan juga memahami bagaimana makhluk tersebut berpikir dan berperasaan.
8.      Edwin G. Boring & Herbert S. Langfeld
Psikologi adalah studi tentang hakikat manusia.
9.      George A. Miller (dalam buku ”Psychology and Communication)
“Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and behavioral events.”
(Psikologi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku).
10.  Clifford T. Morgan (dalam buku “Introduction to Psychology”)
“Psychology is the science of human and animal behavior.”
(Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan).
11.  Robert S. Woodworth & Marquis DG (1957)
“Psychology is the study of human behavior and human relationship.”
(Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas atau tingkah
laku individu dalam hubungan dengan alam sekitarnya).
12.  Paul Mussen & Mark R. Rosenzwieg
Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari mind (pikiran), namun dalam perkembangannya, kata mind berubah menjadi behavior (tingkah laku), sehingga psikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
13.  Knight & Knight
”Psychology may be defined as the systematic study of experience and behavior human and animal, normal and abnormal, individual and social.
14.  Ruch
“Psychology is sometimes defined as the study of man, but this definition is too broad. The truth is that psychology is party biological science and partly a social science, overlapping these two major areas and relating them each other.”
15.  Wilhelm Wundt
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti: perasaan panca indera, pikiran, feeling (perasaan), dan kehendak.
16.  John Broadus Watson
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku tampak (lahiriah) dengan menggunakan metode observasi yang objektif terhadap rangsang dan jawaban (respons).
17.  Plato & Aristoteles
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.
18.   Dr. Singgih Dirgagunarsa
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia.

Jumat, 04 Februari 2011

HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN ILMU-ILMU LAINNYA

Dengan definisi atau pengertian  psikologi seperti diuraikan pada bagian A di atas, dapatlah kita pahami bahwa psikologi sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri, dalam melaksanakan tugasnya (dalam aplikasinya) tidak terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, bahkan sebaliknya psikologi memerlukan bantuan ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, baik ilmu pengetahuan alam maupun pengetahuan sosial, terutama yang secara langsung menyangkut kehidupan manusia. 
Mengingat objek studi psikologi adalah kegiatan / tingkah laku  manusia, maka sudah barang tentu ilmu-ilmu sosial adalah  yang pertama-tama mempunyai hubungan yang sangat erat dengan psikologi, hukum-hukum dan ketentuan dalam ilmu-ilmu sosial sanagat dipengaruhi oleh perbuatan manusia atau masyarakat dan lingkungannya. Untuk lebih jelasnya marilah kita ikuti satu demi satu hubungan psikologi dengan ilmu-ilmu lainnya.

Sosiologi memusatkan  perhatiannya kepada unsur-unssur atau gejala khusus dalam masyarakat manusia, dengan menganalisa  kelompok-kelompok masyarakat manusia (social groupings), hubungan antara kelompok-kelompok atau individu-individu (social relation) atau proses-proses yang terdapat  dalam kehidupan suatu masyarakat (social processes). (Koentjaraningrat,  1980 : 41). Psikologi juga mempelajari tingkah laku atau kegiatan manusia selaku anggota kelompok atau anggota masyarakat, sebagai manifestasi dari aktivitas rohaniahnya, terutama dalam hubungannya dengan individu lain, baik di dalam maupun di luar kelompoknya, juga interaksi antara satu sama lain dalam hidup bermasyrakat. Perbedaan yang jelas antara psikologi dengan sosiologi adalah pada objek formalnya.
Psikologi menitikberatkan pada tingkah laku / kegiatan individu selaku anggota masyarakat dalam hubungannya dengan yang lain, sedang sosiologi menitikberatkan pada hidup kelompok dengan ciri-cirinya yang berupa organisasi yang terbentuk di dalamnya. Jadi bantuan sosiologi terhadap psikologi adalah dalam usaha pemahaman mengenai faktor lingkungan sosial.

Bantuan antropologi terhadap psikologi, khususnya terhadap psikiatri, sangatlah besar, sehingga dalam perkembangannya yang terakhir, lahir suatu cabang baru dari antropologi, yaitu “anthropology in mental health”. Di antara penyakit-pnyakit jiwa  yang diobati oleh para ahli penyakit jiwa (psychiater), ternyata ada yang tidak disebabkan oleh  kelainan-kelainan biologis atau kerusakan dalam organisme, melainkan karena jiwa dan emosi-emosi yang tertekan atau frustrasi.
Keadaan tertekan jiwa ini disebabkan dan dilatar-belakangi oleh aspek-aspek sosial budaya. Aspek-aspek budaya yang melatar-belakangi atau menyebabkan penyakit jiwa ini merupakan bidang penelitian dan pembahasan antropologi, khususnya “anthropology in mental health” (Nader, 1972 : 9).  

Kedua ilmu ini hampir tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena mempunyai hubungan timbal balik. Ilmu Pendidikan sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusia sejak ia lahir sampai tua/mati. Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik, bilamana tidak berdasarkan kepada paikologi perkembangan. Demikian juga watak dan kepribadian seseorang ditunjukkan oleh psikologi. Oleh karena sangat eratnya tugas antara psikologi dan ilmu pendidikan, maka kemudian timbul “educational psychology”  (ilmu jiwa pendidikan), bahkan dalam perkembangannya lebih lanjut muncullah ilmu yang disebut metodologi pendidikan (ilmu tentang cara mendidik).

Biologi mempelajari tentang  kehidupan jasmaniah manusia atau hewan, dilihat dari objek materialnya, terdapat bidang yang sama dengan psikologi, hanya  obyek formalnya yang berbeda. Obyek formal biologi adalah kehidupan jasmaniah (fisik), sedang obyek formal psikologi tentang kegiatan atau tingkah laku manusia. Sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut : Pengaruh jasmaniah dan rohaniah terhadap perkembangan janin dalam kandungan adalah dapat dipelajari baik oleh biologi maupun psikologi. Keruwetan pikiran dan ketidak-tenteraman psikologis yang diderita si ibu akan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan janin (embrio) dalam kandungannya. Kekurangan vitamin atau penyakit jasmaniah yang diderita si ibu yang sedang mengandung akan memberikan efek/dampak, baik biologis maupun psikologis anak dalam kandungan, seperti anggota badan yang tidak normal, lemah ingatan, dan lemah kecerdasan.

Fisiologi mempelajari organ-organ tubuh manusia sebagai organisme. Fisiologi mempelajari  bagaimana proses bekerjanya organ-organ tubuh seperti : otak, mata, hati, jantung, paru-paru, dan sebagainya, serta interaksi antara organ satu dengan organ lainnya. Juga fisiologi mempelajari bagaimana fungsi tubuh/organ-organ itu dapat bekerja akibat dari hidup kejiwaan. Misalnya tentang manusia dapat melihat benda-benda, menurut fisiologi, manusia itu dapat melihat benda (objek) disebabkan adanya cahaya yang masuk ke dalam mata dan diterima oleh bintik-bintik kuning yang ada di dalam mata, lalu cahaya  tersebut diteruskan ke dalam otak sehingga timbul kesadaran penglihatan (dapat melihat benda/objek). Sedang menurut psikologi, manusia dapat melihat disebabkan oleh adanya motif-motif yang mendorong keinginannya untuk melihat benda/objek. Di samping dorongan motif,  juga karena adanya rangsangan  (stimulus) dari luar dirinya, sehingga melihat itu merupakan respon terhadap stimulus yang diterimanya.

6.    Hubungan Psikologi dengan Ilmu Alam
Menurut sejarah perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, ilmu alam merupakan disiplin ilmu yang pertama-tama memisahkan diri dari filsafat. Ilmu alam lahir berdasarkan data dan fakta hasil penelitian (eksperimen), terutama di laboratorium. Metode eksperimen ini dianggap lebih objektif dibanding dengan metode spekulatif yang digunakan dalam filsafat. Pada awal abad ke-19 Masehi, psikologi dalam penelitiannya banyak  terpengaruh oleh ilmu alam. Psikologi disusun berdasarkan hasil eksperimen sehingga lahirlah antara lain: psiko psikis dan behaviorisme yang tokoh-tokohnya natara laiin : Gustav Fechner, Johannes Muller, Watson, dan lain-lain (Watson, 1968). Akan tetapi pada akhirnya psikologi menyadari bahwa obyek penyelidikannya adalah manusia dan tingkah lakunya yang hidup  dan selalu berkembang, sedang ilmu alam obyeknya adalah benda mati. Oleh karena itu metode ilmu alam yang dicoba diterapkan dalam psikologi dianggap kurang tepat, oleh karenanya psikologi mencari metode lain yang sesuai dengan sifat keilmuannya sendiri, yaitu antara lain metode “fenomenologi”, yaitu suatu metode penelitian yang menitikberatkan kepada gejala hidup kejiwaan.
Dengan uraian di atas, jelaslah bahwa psikologi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ilmu-ilmu yang lainnya, khususnya dengan ilmu-ilmu sosial atau ilmu-ilmu yang obyek penelitiannya mahluk hidup, khususnya manusia. Dan dalam perkembangannya sudah barang tentu psikologi, akan semakin mempunyai hubungan  yang luas dengan ilmu-ilmu selain ilmu-ilmu tersebut di atas.  

Sabtu, 29 Januari 2011

Pengertian Psikologi

Menurut asal katanya psikologi berasal dari  bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata-kata  “psyche” dan  “logos”. Secara etimologis atau pengertian lafdhiyah,  “psyche” berarti jiwa, roh, sukma, atma, atau napas hidup, dan  “logos” (ology) berarti ilmu atau studi. Jadi secara etimologis, psikologi berarti ilmu jiwa atau suatu studi tentang jiwa, tentang roh, tentang atma,  sukma, atau tentang napas hidup. Untuk jangka waktu yang cukup lama, terutama ketika psikologi  masih merupakan bagian atau cabang dari filsafat, psikologi diartikan seperti pengertian tersebut di atas.
Para ahli psikologi modern dewasa ini, tidak lagi menartikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa (roh). Sebab apa yang dimaksud dengan jiwa atau roh itu,  tidak ada seorang pun  yang tahu dengan sesungguhnya. Jiwa adalah sangat abstrak dan tidak dapat dilihat dengan pancaindera. Firman Allah di dalam Al Qur’an, yang artinya sebagai berikut :
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang jiwa atau roh, maka katakanlah bahwa jiwa (roh) itu adalah urusan Tuhan dan kamu tidak diberi pengetahuan (tentang jiwa itu) kecuali sedikit saja” (Al Qur’an, Al-Israa,17 : 85).

Ayat tersebut di atas bukan berarti menutup kemungkinan untuk mengkaji  tentang “jiwa”, akan tetapi menyatakan bahwa kemungkinan pengkajian jiwa secara menyeluruh kelihatannya sangat tipis.
Karena keterbatasan pengetahuan manusia tentang jiwa (roh) ini, maka timbul berbagai pendapat mengeni definisi atau ta’rif tentang psikologi yang saling berbeda. Para ahli psikologi merumuskan definisinya sendiri berdasarkan pandangan, minat, dan aliran yang dianutnya masing-masing. Di antara para ahli yang mengemukakan definisi psikologi dapat dikemukakan di sini antara lain :
MUSSEN dan ROSENZWIEG (1975 : 5) : Pada masa lampau psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang  “mind” (pikiran) atau the study of mind, tapi dalam perkembangannya, kata mind berubah menjadi “behavior” (tingkah laku), sehingga psikologi  didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia.
CLIFFORD T. MORGAN (1961 : 2); “Psychology is the science of human and animal behavior”. Artinya, Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dan hewan.
Pendapat seperti ini dikemukakan pula oleh MUNN & FERNALD (1964 : 4) dalam bukunya yang berjudul  “Introduction to Psychology” sebagai berikut : “Psychology is defined  as the science of human behavior, itsinvestigations are not limited to human beings and they sometimes extend beyond observable behavior”.
WOODWORTH & MARQUIS (1957 : 7) : “Psychology is  the scientific studies of individual activities relation to the environment”. Artinya, psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang  aktivitas  atau tingkah laku individu dalam hubungan dengan alam sekitarnya.
MOSKOWITZ & ORGEL (1969 : 20) : “Psychology is  an empirical science based on objective observation and experimental investigation, its focus is on behavior, its purpose is to provide on understanding  of the mechanisms of human activity and adaptation so that man might improve himself”. Artinya,  psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan empirik yang berdasarkan atas observasi dan penelitian eksperimental, pokok persoalannya adalah tentang tingkah laku manusia. Tujuannya untuk melengkapi terhadap pengertian mekanisme aktivitas manusia dan penyesuaian dirinya, sehingga memungkinkan manusia untuk memperbaiki dirinya.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, ternyata bahwa studi psikologi tidak hanya terbatas kepada manusia, tetapi juga mempelajari tingkah laku hewan. Studi tentang tingkah laku hewan ini tidak  akan dibahas dalam tulisan ini. Nampaknya juga, bahwa definisi-definisi di atas, sekalipun berbeda-beda, pada hakekatnya mempunyai beberapa persamaan yang dikonsensuskan ke dalam satu definisi yang dapat diterima oleh semua piahk. Oleh karena itu penulis cenderung untuk merumuskan definisi seperti di bawah ini.
Psikologi adalah ilmu pengetahuan (science) yang meneliti dan mengkaji tingkah laku atau kegiatan manusia  dalam hubungan dengan lingkungannya.
Dalam definisi di atas dapat kita lihat beberapa unsur sebagai berikut :
Ilmu pengetahuan (Science), yaitu suatu kumpulan  pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan mempunyai metode-metode tertentu yang bersifat ilmiah. Psikologi di samping merupakan ilmu, juga merupakan “seni”, karena dalam penerapannya (aplikasinya) dalam berbagai segi kehidupan manusia diperlukan keterampilan dan kreativitas tersendiri,  namun dalam buku ini pembatasan akan lebih ditekankan kepada segi psikologi sebagai ilmu. Tidak membahas psikologi sebagai “seni”.
Tingkah laku atau kegiatan; tingkah laku  atau kegiatan ini mempunyai arti yang lebih konkrit dan dapat diamati dengan pancaindera, maka tingkah laku lebih mudah dipelajari daripada jiwa dan melalui pemahamn terhadap tingkah laku, kita akan dapat mengenal seseorang. Tingkah laku mempunyai pengertian yang lebih luas, yaitu meliputi segala manifestasi  hayati, meliputi kegiatan yang paling nampak dan konkrit sampai dengan yang paling tidak kelihatan, dari kegiatan yang paling dirasakan sampai dengan yang paling tidak dirasakan oleh individu yang bersangkutan. 
Keseluruhan tingkah laku atau kegiatan individu tersebut di atas dapat dikelompokkan ke dalam jenis-jenis kegiatan sebagai berikut :
1.        Kegiatan motoris (motoric activity).   
Kegiatan motoris  meliputi kegiatan individu yang dinyatakan dalam gerakan-gerakan atau perbuatan jasmaniah, misalnya: makan, minum, berjalan, mengendarai mobil, berlari, memukul, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan motoris ini pada umumnya dapat dilihat dengan segera karena  nampak (terbuka). Kegiatan ini ada yang  disadari dan ada yang tidak disadari. Yang disadari karena ada perintah dari pusat susunan urat saraf atau otak, sedang yang tidak disadari tidak ada perintah dari pusat susunan saraf otak. Kegiatan ini merupakan kegiatan refleks.
2.        Kegiatan kognitif (cognitive activity).
Kegiatan ini merupakan kegiatan individu yang berhubungan dengan pengenalan, pemahaman, penalaran serta penyadaran tentang dunia luar, tentang lingkungan sekitarnya. Misalnya: mengindera, mengamati,  berfikir, menghafal,  melihat, belajar memecahkan masalah, dan sebagainya.
3.        Kegiatan konatif (conative activity).
Kegiatan konatif adalah kegiatan-kegiatan  yang berkenaan dengan motif atau dorongan-dorongan individu untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya : harapan, kehendak, cita-cita, motif, dan sebagainya. Kegiatan konatif ini merupakan kegiatan yang tertutup (inner activity). Oleh karena itu sering kali tidak nampak ke luar.

4.        Kegiatan affektif (affective activity).
Kegiatan affektif adalah kegiatan yang memanifestasikan  penghayatan sesuatu emosi atau perasaan tertentu. Misalnya : sedih, cinta, marah, benci, gembira, takut, mengagumi, dan sebagainya.
            Di dalam kenyataannya, kita sukar membedakan mana kegiatan motoris, kognitif, konatif, atau affektif, karena  kegiatan-kegiatan tersebut tidak pernah  berdiri sendiri. Hanya kemungkinan dalam suatu kegiatan tertentu, kegiatan motoris lebih menonjol, dibanding dengan kegiatan lainnya. Psikologi yang dalam penelitiannya lebih mementingkan tingkah laku yang terbuka saja (motoric activity), disebut aliran “Psikologi Introspeksi” .
            Dalam perkembangannya obyek material psikologi, makin mengarah kepada manusia, oleh karena manusialah yang  paling berkepentingan  dengan ilmu ini. Manusia paling memerlukan  psikologi dalam berbagai segi kehidupannya. Misalnya: dalam dunia pendidikan, dunia industri, dan perdagangan, dunia klinis,  kriminil, rumah tangga, kantor, dan sebagainya. Hewan sebenarnya masih juga (dan makin berkembang) menjadi objek pengkaji psikologi, tetapi hanya sebagai perbandingan saja atau untuk mencari fungsi-fungsi psikologis yang paling sederhana,  yang sudah sukar dipelajari pada manusia,  karena struktur psikologis manusia sudah begitu kompleks.
            Lingkungan, yaitu tempat di mana manusia hidup, berinteraksi, menyesuaikan dirinya dan mengembangkan dirinya. Individu menerima pengaruh dari lingkungan,  memberi respons terhadap lingkungan, mencontoh dan belajar berbagai hal dari lingkungan.
            Lingkungan itu, dalam garis besarnya dapat dibedakan: lingkungan dalam (internal environment) dan lingkungan luar (external environment). Lingkungan dalam ialah  hal-hal yang pada mulanya berasal dari luar individu, yang kemudian masuk ke dalam tubuh dan bersatu dengan sel-sel tubuh melalui makanan, minuman, udara (pernapasan), seperti  hormon-hormon, kelenjar-kelenjar tubah, dan sebagainya. Lingkungan dalam itu  memberi rangsangan kepada individu, mempengaruhi kegiatannya dan perkembangannya. Lingkungan luar terdiri dari lingkungan alam (physical environment), lingkungan sosial (social environment), dan lingkungan spiritual (spiritual environment).
            Yang dimaksud dengan lingkungan alam, ialah segala sesuatu yang berada di luar (di sekitar) individu, misalnya : makanan, minuman, perumahan, tumbuh-tumbuhan, hewan, udara, cuaca, dan sebagainya. Lingkungan sosial, ialah proses dan akibat dari interaksi individu dengan individu lainnya atau individu dengan alam sekitarnya. Termasuk ke dalam lingkungan sosial ini adalah lingkungan kultural (cultural environment), yaiatu segala sesuatu  hasil ciptaan manusia sebagai usaha untuk mempertahankan hidupnya. Sedang yang dimaksud  dengan lingkungan spiritual ialah berupa antara lain: agama atau kepercayaan yang dianut oleh individu atau masyarakat.